Rabu, 20 Maret 2013

ANALISI NILAI KEHIDUPAN DALAM NOVEL DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH


Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari) (KBBI, 2007:1001). Sastra adalah karya lisan atau tertulis yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:). Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni (Wellek & Warren, 1989:3). Jadi, dapat disimpulkan berdasarkan sumber di atas bahwa sastra adalah suatu kegiatan seni yang mempergunakan bahasa baik itu secara lisan maupun tulisan berupa fakta dan imajinatif dari suatu kehidupan.
Sastra terdiri dari berbagai jenis atau genre seperti  puisi, prosa, drama, prosa fiksi, dan novel. Puisi yaitu bentuk karya sastra yang diungkapkan dengan gaya dendang (Sugiantomas, 2019:12). Puisi adalah karangan yang terkait oleh rima, irama, matra, larik dan baris (Rizal, 2010:9). Puisi adalah ragam sastra yang pada awal perkembangannya memperlihatkan ciri khusus, yaitu bahasa yang dipergunakan sangat terikat oleh irama, matra rima, serta penyusunananya juga sangat terikat pada larik dan bait (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:749). Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait (KBBI 2007:903). Jadi, puisi adalah ragam sastra yang terikat oleh rima, irama, matra, larik, dan baris.
Prosa adalah karangan bebas; bentuk karangan yang tidak terikat oleh bait, banyak bait dalam satu baris, banyak suku kata dalam satu baris, dan tidak terikat oleh sajak (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:746). Prosa ialah bentuk karya sastra yang diungkapkan dengan gaya bercerita (Sugiantomas, 2010:12).  Prosa adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah-kaidah yang terdapat dalam puisi) (KBBI, 2007:899). Prosa adalah karangan bebas tidak terikat oleh syarat-syarat ataupun oleh susunan bahasa dan tatanan bahasanya (Rizal, 2010:140).
Jadi, prosa adalah karangan bebas yang diungkapkan dengan gaya bercerita dan tidak terikat oleh kaidah-kaidah dalam puisi serta tidak terikat oleh syarat-syarat ataupun susunan bahasa dan tatanan bahasanya.
Drama adalah karangan yang dipaparkan dengan perbuatan, tingkah laku, ekspresi, gerak, dan laku serta dialog (Rizal, 2010:157). Drama adalah karya sastra yang diungkapkan dengan gaya dialog (Sugiantomas, 2010:12).  Drama adalah suatu genre (jenis) sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:279). Drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan (KBBI, 2007:275). Berdasarkan pendapat pakar di atas, drama adalah jenis karangan yang dapat menggambarkan kehidupan dan watak seseorang melalui tingkah laku, ekspresi, gerak, bahkan dialog.
Prosa fiksi merupakan gabungan dari dua kata yaitu prosa dan fiksi. Prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh kaidah-kaidah dalam puisi dan tidak terikat oleh syarat-syarat ataupun susunan bahasa dan tatanan bahasanya. Sementara fiksi bisa diartikan imajinasai.
Jadi, prosa fiksi yaitu karangan bebas yang tidak terikat oleh rima, irama, matra yang dimuati imajinasi.
Novel berasal dari bahasa latin “Novelius” yang diturunkan dari kata “Novies” yang berarti “Baru”. Dikatakan baru sebab novel muncul belakangan dibanding dengan bentuk puisi dan drama (Sugiantomas, 1998:31). Novel adalah menceritakan kejadian yang luar biasa dari kehidupan pelakunya yang menyebabkan perubahan sikap hidup serta nasibnya (Rizal, 2010:152). Novel adalah prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh, menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:645). Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap perilaku (KBBI, 2007:788). Jadi, novel adalah prosa rekaan yang menceritakan kejadian suatu kehidupan yang menonjolkan sifat dan watak setiap perilaku yang dirangkai dengan peritiwa dan latar.
Karya sastra yang akan dikritik ini tergolong ke dalam novel, karena ceritanya berisi suatu kejadian kehidupan yang didukung oleh peristiwa dan latar, sehingga menyebabkan perubahan sikap hidup dan nasib seseorang.
Novel memiliki unsur-unsur yang terdapat di dalamnya seperti unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur-unsur tersebut berisi alur, tokoh/penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, tema, dan amanat. Serta unsur-unsur pendukung seperti aspek agama, sosial, moral, politik, pendidikan, dan ekonomi. Alur adalah jalan cerita yang berisi tentang peristiwa-peristiwa yang tersusun menjadi sebuah cerita dari awal sampai akhir. Alur cerita dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah flash back.
Cerita ini dimulai saat pengarang melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. Ketika menginjakkan kaki di tanah suci, aku menumpang di rumah seorang syekh yang pekerjaan dan pencahariaannya dari memberi tumpangan bagi orang haji. Di tempat tumpangan itu si Aku bertemu dengan seorang pemuda yang berusia kira-kira 23 tahun. Pemuda itu menurut syekh berasal dari Sumatera. Dalam beberapa hari si Aku dapat berkenalan dengannya.
Tetapi baru saja dua bulan si Aku bergaul dengannya, pergaulan itu terusik oleh teman Hamid dari Padang yaitu Saleh. Karena merasa penasaran, suatu malam si Aku memberanikan diri menanyakan sebab perubahan sifat itu.
“Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas sutuh, di atas sebuah bangku yang berhamparan daun kurma berjalin, memandang kepada bintang-bintang yang memancarka cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati mendekatkan diri dengannya. Maksud saya kalau dapat hendak membagi kedukaan hatinya.”
Karena merasa percaya kepada si Aku, bahwa rahasia ini akan ditutupi sebelum dirinya meninggal, maka Hamid menceritakan semua pengalamannya yang membuat dirinya bersedih.
“Jika telah demikian Tuan berjanji, tentu Tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada Tuan sebab-sebab saya bersedih hati, akan saya paparkan satu persatu, bagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap Tuan simpan cerita perasaan saya ini selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada Tuan, siapa tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan Tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah pekuburan.”
Setiap pagi ia menjungjung nyiru berisi gorengan, setiap pagi itu pula seorang perempuan, tetangga baru Hamid selalu memberi gorengan itu. Suatu ketika Hamid ditanya oleh perempuan itu tentang keberadaannya, namanya Mak Asiah. Hamid menjawab dengan apa adanya tentang kehidupannya. Rupanya setelah mendengar penjelasan Hamid, Mak Asiah merasa kasian. Akhirnya Hamid diangkat menjadi anak oleh suaminya mak Asiah yaitu Haji Ja'far. Perhatian Haji Ja'far dan Mak Asiah sangat baik. Hamid dianggap seperti anaknya sendiri. Mereka sangat baik kepada Hamid karena perilaku Hamid terpuji dan taat beragama. Karena itu pula Hamid disekolahkan bersama dengan Zainab, anak kandung Haji Jafar di sekolah rendah.
“Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya.”
Perasaan sayang yang dahulu dirasakan seorang kakak terhadap seorang adik, tetapi kini perasaan itu berubah menjadi rasa sayang seorang laki-laki remaja terhadap gadis remaja. Bermula saat Hamid dan Zainab tamat sekolah. Seperti biasa karena Zainab anak perempuan ia tidak melanjutkan sekolah, sementara Hamid karena anak laki-laki ia dapat meneruskan sekolah. Itu pun karena bantuan dari Engku Haji Ja'far. Hamid melanjutkan cita-citanya itu di Padang Panjang. Tetapi sejak ia pindah ke Padang Panjang, ia merasa kesepian. Ia merasa kehilangan teman yang selalu menemaninya, Zainab.
“Saya merasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, pasti meja tulis, kain dan baju, semuanya cukup. Tetapi badan saya ringan, seakan-akan ada suatu kecukupan yang telah kurang.”
Hamid mendapatkan musibah besar yang tak disangka-sangkanya secara berturut-turut, yaitu meninggalnya Haji Jafar dan ibunya. Semenjak kepergian Haji Ja'far itu, semuanya menjadi berubah. Hamid tak dapat leluasa menemui Zainab karena Zainab telah dipingit oleh mamaknya.
“Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja'far yang dermawan itu... Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan dengan rumah tangga Zainab. Belum beberapa lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyebrangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, yaitu penyakit dada.”
Sudah sedih kehilangan dua orang yang sangat dicintai yaitu Haji Ja'far dan Ibunya, kini ia dihadapkan pada satu perintah yang bertolak belakang dengan keinginanya. Mak Asiah meminta Hamid untuk melunakkan hati Zainab supaya Zainab mau dipertunangkan dengan seorang laki-laki kemenakan almarhum haji Ja'far yang ada di Padang Hulu.
“...Dapatkah engkau menolong mamak, melunakan hatinya dan membujuk dia supaya mau? Hamid! … Mamak percaya kepadamu sepenuh-penuhnya,sebagai mendiang bapakmu percaya kepada engkau!”
Setelah kejadian pada hari itu, Hamid memutuskan untuk meninggalkan kota Padang tanpa sepengetahuan Zainab. Hamid menuju kota Medan, ketika di Medan Hamid mengirimkan surat kepada Zainab, dengan memberanikan diri mencurahkan segala perasaan yang selama ini dipendamnya. Setelah dari Medan Hamid menuju ke Singapura, selanjutnya ke Tanah Suci Mekah.
Ketika di Mekah Hamid bertemu dengan Saleh, teman sekampungnya yang kebetulan akan menunaikan ibadah Haji. Kehadiran Saleh memberikan informasi kepada Hamid tentang keaadan di kampungnya dan tentang Zainab. Tentu ini semua membuat bahagia Hamid. Saleh juga memberi tahu bahwa Zainab mencintai Hamid, Saleh tahu hal tersebut dari istrinya yaitu Rosna yang kebetulan Rosna adalah teman sepermainannya Zainab. Dibuktikan lagi dengan surat yang dikirim Zainab kepada Hamid.
“Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikan dan pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi, bulan itu tak tetap datang; pada malam yang berikutnya dan seterusnya ia kian surut... Hanya kepada angin petang yang berhembus diranting-ranting kayu dekat rumahku, hanya kepadanya aku bisikan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan Abangku yang berjalan jauh...”
Begitupun dengan Zainab kini ia telah mengetahui keberadaan Hamid, seseorang yang ia nantikan selama bertahun-tahun. Karena Saleh pula cinta keduanya jadi terbuka, Hamid dan Zainab kini sama-sama telah mengetahui perasaan masing-masing, yang ternyata cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Tetapi sebelum keduanya bertemu di tanah air, Tuhan telah berkehendak lain. Zainab dipanggil-Nya, disusul pula oleh Hamid yang juga di paggil-Nya.”
Tokoh dan perwatakan, ada beberapa jenis tokoh yang mungkin terdapat dalam sebuah cerkaan yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh Sentral adalah tokoh yang hampir dalam keseluruhan cerita menjelajahi persoalan. Tokoh sentral ini terbagi pada tokoh utama atau protagonis dan tokoh penentang tokoh utama atau antagonis. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Tokoh dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah
Aku. Aku disini memiliki watak mudah dipercaya dan mudah tersentuh hatinya. Terlihat dalam kutipan
“...saya telah percaya penuh pada Tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini...”
“Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihannya itu telah berpindah ke dada saya, meskipun saya tak tahu apa yang disedihkannya.”
Hamid sebagai tokoh utama. Hamid, seorang sahabat yang baik hati, tidak suka membuang-buang waktu, dan seorang muslim yang taat beribadah. Hamid di sini mempunyai watak tokoh berubah karakter. Terlihat pada kutipan.
“...Hidupnya amat sederhana, tiada lalai dari ibadat, tiada suka membuang waktu kepada yang tidak berpaedah, lagi amat suka memperhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasawuf yang tinggi.”
“...kadang-kadang kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh rumah tempatnya tinggal, melihat tenang-tenang kepada “gela'ah” (benteng-benteng) tua di atas puncak Jabal Hindi.”
“...Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya mulut saya tertutup, saya menjadi seorang bodoh dan pengecut.”
Zainab sebagai tokoh utama. Seorang gadis cantik yang santun dan patuh kepada orang tua. Zainab mempunyai watak tokoh yang berubah karakter setelah terjadi peristiwa Hamid pergi tanpa memberi tahu dirinya. Terlihat dalam kutipan
“...meskipun saya hanya anak yang beroleh tolongan dari ayahnya, sesekali tidaklah Zainab memandang saya sebagai orang lain lagi, tidak pula pernah mengangkat diri, agaknya karena kebaikan didikan ayah bundanya.”
“Semenjak itu, entah di lautan entah di daratan, berita tak sampai-sampai lagi, kian lama dia hilang, kian berdiri dia dalam ingatanku. Kadang-kadang saya menjadi putus pengharapan, hatiku kerap berkata, bahwa saya takkan bertemu lagi dengan dia.”
Ibu sebagai tokoh bawahan. Ibu di sini digambarkan sebagai tokoh yang berubah karakter. Terkadang ia menjadi orang yang pemarah, penuh kasih sayang, dan terkadang ia digambarkan sebagai orang yang putus asa. Terlihat dalam  kutipan
“...kemiskinan telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, karena tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah terban...”
“...Mula-mula ibu seakan-akan hendak menampik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya telah bercepat mulut menerangkan untung perasaian kami kepada orang lain.”
“Di waktu teman-teman bersukaria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah didekat ibu, mengerjakan apa yang dapat saya tolong. Kadang-kadang ada juga disuruhnya saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat gembira sebagai teman-teman itu, karena kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu.”
Haji Ja'far sebagai tokoh bawahan. Ayah Zainab yang baik hati yang mau membiayai Hamid sekolah dan mengangkat Hamid sebagai anak laki-lakinya, serta orang yang dipandang di dalam masyarakat karena budi baiknya. Terlihat dalam kutipan
“...besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya.”
“...ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satupun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Ja'far.”
Mak Asiah sebagai tokoh bawahan. Ibu Zainab yang dermawan yang memiliki rasa belas kasihan yang tinggi dan patuh kepada suaminya. Terlihat dalam kutipan
“...sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan istri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai saudaranya, segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka yang rawan...”
“...segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal-hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah diantara keduanya persahabatan yang kental, harga-menghargai dan cinta mencintai.”
Saleh sebagai tokoh bawahan. Saleh mempunyai watak berubah karakter. Saleh disini digambarkan memiliki watak susah memegang rahasia, tetapi di lain sisi ia seorang yang setia kawan. Terlihat dalam kutipan
“...Demi kelihatan hal itu jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya, kalau-kalu di tempat itulah ia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami...”
“Barangkali terganggu perjalanan jiwa menuju bakti dan kesucian karena mendengar berita yang saya bawa itu.” kata Saleh, “Tetapi saya sebangsa orang tiada tahan memegang rahasia, sehingga terkatan juga olehku kepada engkau dan beruntung engkau Hamid... berbahagia sekali.”
Rosna sebagai tokoh bawahan. Rosna memiliki watak yang teguh hati dan setia kawan. Terlihat dalam kutipan
“...Dia menceritakan kepadaku, bahwa dia telah beristri dan istrinya telah sudi melepaskan dia berlayar sejauh itu, padahal mereka baru kawin. Dipujinya istrinya sebagai seorang perempuan yang setia yang teguh hati melepas suaminya berjalan jauh, karena untuk menambah pengetahuannya...”
“...seketika lamanya kedua sahabat itu berpeluk-pelukan, bertangis-tangisan, tidak berkata-kata.”
Latar atau setting adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, suasana, dan lingkungan sosial yang terdapat dalam cerita (Sugiantomas, Gaya bahasa adalah cara pengarang dalam mengungkapkan suatu pengertian dalam kata, kelompok kata atau kalimat (Sugiantomas, 1998:5). Latar atau setting dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah:
Latar Tempat
Di Mekah. “...Dua hari kemudian saya pun sampai di mekkah, Tanah Suci kaum muslim sedunia.”
Di Kota Padang. “...Ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu...”
Di Puncak Gunung Padang. “Waktu orang berlimau, sehari orang akan berpuasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang...”
Di Padang Panjang. “Saya tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang…”
Di Pesisir Arau. “...di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di Pesisir Arau yang indah itu...”
Latar Suasana
Suasana sedih. “...air matanya titik amat derasnya membasahi sorban yang membalut dadanya...”. “Yang berasa sedih amat, adalah anak-anak perempuan yang akan masuk pingitan; tamat  sekolah bagi mereka artinya suatu sangkar yang telah tersedia buat seekor burung yang bebas terbang...”. “...air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir, setitik dua titik kepipinya...”
Suasana bahagia. “Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya. Mendengar perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang selama ini sangat diharap-harapkannya.”. “Bilamana pakansi puasa telah datang, gembiralah hati saya, karena akan dapat saya menghadap ibu saya, memaparkan dihadapannya, bahwa dia sudah patut gembira, karena anaknya ada harapan akan menjadi orang alim...”. “Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya.”. “Akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaiman wajah Hamid ketika membaca surat itu.Dapatkah,mungkinkah dikira-kirakan bagaiman perasaannya waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini,buah mimpinya.Memikirkan kerendahan derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima surat Zainab.”
Sudut pandang adalah kedudukan pengarang dalam bercerita. Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini menggunakan sudut pandang orang pertama dan kedua. Orang pertama yaitu Aku, sedangkan orang kedua yaitu Hamid, Saleh, Zainab, Engku Haji Ja’far, Mak Asiah, dan Rosna.
Gaya bahasa adalah cara pengarang dalam mengungkapkan suatu pengertian dalam kata, kelompok kata atau kalimat (Sugiantomas, 1998:53). Gaya bahasa yang terdapat dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah
Gaya bahasa asosiasi. “...Merapi dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas...” (HAMKA, Halaman 23). “...setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi.” (HAMKA, Halaman 43). “Bertahun tahun kami hidup laksana beradik berkakak...” (HAMKA, Halaman 53). “...laksana seorang pendeta pertapa yang benci akan dunia leta ini.” (HAMKA, Halaman 53). “...laksana seekor burung yang terlepas dari sangkarnya sepeninggalan yang empunya pergi.”(HAMKA, Halaman 62). “...laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badanya dengan sukmanya.” (HAMKA, Halaman 72). “Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga.” (HAMKA, Halaman 58).
Gaya bahasa hiperbola. “...terlompatlah air mata ibuku karena suka cita...” (HAMKA, Halaman 18). “...air matanya kelihatan menggelenggang...” (HAMKA, Halaman 41). “...saya patahkan hati anaknya yang hanya satu...” (HAMKA, Halaman 44). “...saya telah karam di dalam khayal...” (HAMKA, Halaman 54). “...karam rasanya bumi ini saya pijakan...” (HAMKA, Halaman 41).
Gaya bahasa personifikasi. “...tiba-tiba datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu.” (HAMKA, Halaman 20). “...dicelah-celah ombak yang memecah ke atas pasir...” (HAMKA, Halaman 35). “...memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang...”
Gaya bahasa metafora. “...singgalang yang senantiasa diliputi kabut... “ (HAMKA, Halaman 24).
Tema adalah pokok persoalan yang diceritakan pengarang. Tema dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah  tentang percintaan, tetapi terhalang oleh status sosial kehidupan. Amanat dalam cerkaan dapat dilihat dari keseluruhan cerita, artinya ada dalam cara-cara pengarang melontarkan konflik bagi tokoh-tokohnya, mengembangkannya, dan menyelesaikannya. Amanat dapat pula dilihat dari kalimat-kalimat yang langsung diungkapkan oleh pengarang baik berupa narasi, deskripsi, atau dialog tokoh. Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah pesan yang ingin disampaikan penulis yaitu segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. Sebagai manusia kita hanya bisa merencanakan, berharap, dan terus berusaha.
Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan yang dimiliki karya sastra ini, dapat dilihat dari keunikan bahasanya yang penuh warna dan alurnya yang membawa pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh Hamid dan Zainab. Isi dari karya sastra ini juga sangat menarik, menceritakan tentang keromantisan dan kesabaran yang luar biasa yang tanpa disadari akan menguras air mata pada saat kita membacanya. Kesabaran yang begitu besar, patuh pada orang tua, dan kebiasaan bertawakal kepada Allah SWT adalah hikmah yang dapat kita ambil dari novel tersebut. Kelemahan yang terdapat dalam novel ini yaitu dalam penulisannya. Bahasa yang digunakan penulis dalam menulis novel tersebut masih berbelit-belit, masih mencampuradukkan antara bahasa Minang-Indonesia dengan bahasa Melayu sehingga tidak semua pembaca akan mengerti akan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar