Sastra (Sanskerta: shastra)
merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti
“teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata
dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang
berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa
digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang
memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya
bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari) (KBBI,
2007:1001). Sastra adalah karya lisan atau tertulis yang memiliki berbagai ciri
keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi dan
ungkapannya (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:). Sastra adalah suatu kegiatan
kreatif, sebuah karya seni (Wellek & Warren, 1989:3). Jadi, dapat
disimpulkan berdasarkan sumber di atas bahwa sastra adalah suatu kegiatan seni
yang mempergunakan bahasa baik itu secara lisan maupun tulisan berupa fakta dan
imajinatif dari suatu kehidupan.
Sastra terdiri
dari berbagai jenis atau genre seperti
puisi, prosa, drama, prosa fiksi, dan novel. Puisi yaitu bentuk karya
sastra yang diungkapkan dengan gaya dendang (Sugiantomas, 2019:12). Puisi
adalah karangan yang terkait oleh rima, irama, matra, larik dan baris (Rizal,
2010:9). Puisi adalah ragam sastra yang pada awal perkembangannya
memperlihatkan ciri khusus, yaitu bahasa yang dipergunakan sangat terikat oleh
irama, matra rima, serta penyusunananya juga sangat terikat pada larik dan bait
(Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:749). Puisi adalah ragam sastra yang
bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait
(KBBI 2007:903). Jadi, puisi adalah ragam sastra yang terikat oleh rima, irama,
matra, larik, dan baris.
Prosa adalah
karangan bebas; bentuk karangan yang tidak terikat oleh bait, banyak bait dalam
satu baris, banyak suku kata dalam satu baris, dan tidak terikat oleh sajak
(Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:746). Prosa ialah bentuk karya sastra yang
diungkapkan dengan gaya bercerita (Sugiantomas, 2010:12). Prosa adalah karangan bebas (tidak terikat
oleh kaidah-kaidah yang terdapat dalam puisi) (KBBI, 2007:899). Prosa adalah
karangan bebas tidak terikat oleh syarat-syarat ataupun oleh susunan bahasa dan
tatanan bahasanya (Rizal, 2010:140).
Jadi, prosa adalah karangan bebas yang diungkapkan dengan gaya bercerita dan tidak terikat oleh kaidah-kaidah dalam puisi serta tidak terikat oleh syarat-syarat ataupun susunan bahasa dan tatanan bahasanya.
Jadi, prosa adalah karangan bebas yang diungkapkan dengan gaya bercerita dan tidak terikat oleh kaidah-kaidah dalam puisi serta tidak terikat oleh syarat-syarat ataupun susunan bahasa dan tatanan bahasanya.
Drama adalah
karangan yang dipaparkan dengan perbuatan, tingkah laku, ekspresi, gerak, dan
laku serta dialog (Rizal, 2010:157). Drama adalah karya sastra yang diungkapkan
dengan gaya dialog (Sugiantomas, 2010:12).
Drama adalah suatu genre (jenis) sastra yang ditulis dalam bentuk dialog
dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan (Ensiklopedi
Sastra Indonesia, 2009:279). Drama adalah komposisi syair atau prosa yang
diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku
(akting) atau dialog yang dipentaskan (KBBI, 2007:275). Berdasarkan pendapat
pakar di atas, drama adalah jenis karangan yang dapat menggambarkan kehidupan
dan watak seseorang melalui tingkah laku, ekspresi, gerak, bahkan dialog.
Prosa fiksi
merupakan gabungan dari dua kata yaitu prosa dan fiksi. Prosa adalah karangan
bebas yang tidak terikat oleh kaidah-kaidah dalam puisi dan tidak terikat oleh
syarat-syarat ataupun susunan bahasa dan tatanan bahasanya. Sementara fiksi
bisa diartikan imajinasai.
Jadi, prosa fiksi yaitu karangan bebas yang tidak terikat oleh rima, irama, matra yang dimuati imajinasi.
Jadi, prosa fiksi yaitu karangan bebas yang tidak terikat oleh rima, irama, matra yang dimuati imajinasi.
Novel berasal
dari bahasa latin “Novelius” yang diturunkan dari kata “Novies” yang berarti
“Baru”. Dikatakan baru sebab novel muncul belakangan dibanding dengan bentuk puisi
dan drama (Sugiantomas, 1998:31). Novel adalah menceritakan kejadian yang luar
biasa dari kehidupan pelakunya yang menyebabkan perubahan sikap hidup serta
nasibnya (Rizal, 2010:152). Novel adalah prosa rekaan yang panjang, yang
menyuguhkan tokoh-tokoh, menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara
tersusun (Ensiklopedi Sastra Indonesia, 2009:645). Novel adalah karangan prosa
yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang
disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap perilaku (KBBI,
2007:788). Jadi, novel adalah prosa rekaan yang menceritakan kejadian suatu
kehidupan yang menonjolkan sifat dan watak setiap perilaku yang dirangkai
dengan peritiwa dan latar.
Karya
sastra yang akan dikritik ini tergolong ke dalam novel, karena ceritanya berisi
suatu kejadian kehidupan yang didukung oleh peristiwa dan latar, sehingga
menyebabkan perubahan sikap hidup dan nasib seseorang.
Novel
memiliki unsur-unsur yang terdapat di dalamnya seperti unsur intrinsik dan
ekstrinsik. Unsur-unsur tersebut berisi alur, tokoh/penokohan, latar, sudut
pandang, gaya bahasa, tema, dan amanat. Serta unsur-unsur pendukung seperti
aspek agama, sosial, moral, politik, pendidikan, dan ekonomi. Alur adalah jalan
cerita yang berisi tentang peristiwa-peristiwa yang tersusun menjadi sebuah
cerita dari awal sampai akhir. Alur cerita dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah flash back.
Cerita
ini dimulai saat pengarang melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah
haji. Ketika menginjakkan kaki di tanah suci, aku menumpang di rumah seorang
syekh yang pekerjaan dan pencahariaannya dari memberi tumpangan bagi orang
haji. Di tempat tumpangan itu si Aku bertemu dengan seorang pemuda yang berusia
kira-kira 23 tahun. Pemuda itu menurut syekh berasal dari Sumatera. Dalam
beberapa hari si Aku dapat berkenalan dengannya.
Tetapi baru saja dua bulan si Aku bergaul dengannya, pergaulan itu terusik oleh teman Hamid dari Padang yaitu Saleh. Karena merasa penasaran, suatu malam si Aku memberanikan diri menanyakan sebab perubahan sifat itu.
Tetapi baru saja dua bulan si Aku bergaul dengannya, pergaulan itu terusik oleh teman Hamid dari Padang yaitu Saleh. Karena merasa penasaran, suatu malam si Aku memberanikan diri menanyakan sebab perubahan sifat itu.
“Pada
suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas sutuh, di atas sebuah
bangku yang berhamparan daun kurma berjalin, memandang kepada bintang-bintang
yang memancarka cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati
mendekatkan diri dengannya. Maksud saya kalau dapat hendak membagi kedukaan
hatinya.”
Karena
merasa percaya kepada si Aku, bahwa rahasia ini akan ditutupi sebelum dirinya
meninggal, maka Hamid menceritakan semua pengalamannya yang membuat dirinya
bersedih.
“Jika
telah demikian Tuan berjanji, tentu Tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu
dan saya telah percaya penuh kepada tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam
pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada Tuan sebab-sebab saya
bersedih hati, akan saya paparkan satu persatu, bagaimana berkata-kata dengan
hati saya sendiri. Memang, saya harap Tuan simpan cerita perasaan saya ini
selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada Tuan, siapa
tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan Tuan menyusun hikayat ini
baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan
nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan
menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah pekuburan.”
Setiap
pagi ia menjungjung nyiru berisi gorengan, setiap pagi itu pula seorang
perempuan, tetangga baru Hamid selalu memberi gorengan itu. Suatu ketika Hamid
ditanya oleh perempuan itu tentang keberadaannya, namanya Mak Asiah. Hamid
menjawab dengan apa adanya tentang kehidupannya. Rupanya setelah mendengar
penjelasan Hamid, Mak Asiah merasa kasian. Akhirnya Hamid diangkat menjadi anak
oleh suaminya mak Asiah yaitu Haji Ja'far. Perhatian Haji Ja'far dan Mak Asiah
sangat baik. Hamid dianggap seperti anaknya sendiri. Mereka sangat baik kepada
Hamid karena perilaku Hamid terpuji dan taat beragama. Karena itu pula Hamid
disekolahkan bersama dengan Zainab, anak kandung Haji Jafar di sekolah rendah.
“Pada
suatu pagi saya datang ke muka ibu dengan perasaan yang sangat gembira, membawa
kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan
ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku
Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya.”
Perasaan
sayang yang dahulu dirasakan seorang kakak terhadap seorang adik, tetapi kini
perasaan itu berubah menjadi rasa sayang seorang laki-laki remaja terhadap
gadis remaja. Bermula saat Hamid dan Zainab tamat sekolah. Seperti biasa karena
Zainab anak perempuan ia tidak melanjutkan sekolah, sementara Hamid karena anak
laki-laki ia dapat meneruskan sekolah. Itu pun karena bantuan dari Engku Haji
Ja'far. Hamid melanjutkan cita-citanya itu di Padang Panjang. Tetapi sejak ia
pindah ke Padang Panjang, ia merasa kesepian. Ia merasa kehilangan teman yang
selalu menemaninya, Zainab.
“Saya
merasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan
saya, pasti meja tulis, kain dan baju, semuanya cukup. Tetapi badan saya
ringan, seakan-akan ada suatu kecukupan yang telah kurang.”
Hamid
mendapatkan musibah besar yang tak disangka-sangkanya secara berturut-turut,
yaitu meninggalnya Haji Jafar dan ibunya. Semenjak kepergian Haji Ja'far itu,
semuanya menjadi berubah. Hamid tak dapat leluasa menemui Zainab karena Zainab
telah dipingit oleh mamaknya.
“Setelah
beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah
menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari
Engku Haji Ja'far yang dermawan itu... Kematiannya membawa perubahan, yang
bukan sedikit kepada perhubungan dengan rumah tangga Zainab. Belum beberapa
lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri
saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyebrangi hidup
bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan
badannya, yaitu penyakit dada.”
Sudah
sedih kehilangan dua orang yang sangat dicintai yaitu Haji Ja'far dan Ibunya,
kini ia dihadapkan pada satu perintah yang bertolak belakang dengan
keinginanya. Mak Asiah meminta Hamid untuk melunakkan hati Zainab supaya Zainab
mau dipertunangkan dengan seorang laki-laki kemenakan almarhum haji Ja'far yang
ada di Padang Hulu.
“...Dapatkah
engkau menolong mamak, melunakan hatinya dan membujuk dia supaya mau? Hamid! …
Mamak percaya kepadamu sepenuh-penuhnya,sebagai mendiang bapakmu percaya kepada
engkau!”
Setelah
kejadian pada hari itu, Hamid memutuskan untuk meninggalkan kota Padang tanpa
sepengetahuan Zainab. Hamid menuju kota Medan, ketika di Medan Hamid mengirimkan
surat kepada Zainab, dengan memberanikan diri mencurahkan segala perasaan yang
selama ini dipendamnya. Setelah dari Medan Hamid menuju ke Singapura,
selanjutnya ke Tanah Suci Mekah.
Ketika
di Mekah Hamid bertemu dengan Saleh, teman sekampungnya yang kebetulan akan
menunaikan ibadah Haji. Kehadiran Saleh memberikan informasi kepada Hamid
tentang keaadan di kampungnya dan tentang Zainab. Tentu ini semua membuat
bahagia Hamid. Saleh juga memberi tahu bahwa Zainab mencintai Hamid, Saleh tahu
hal tersebut dari istrinya yaitu Rosna yang kebetulan Rosna adalah teman
sepermainannya Zainab. Dibuktikan lagi dengan surat yang dikirim Zainab kepada
Hamid.
“Hanya
kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikan dan pesankan kerinduan adinda
hendak bertemu. Tetapi, bulan itu tak tetap datang; pada malam yang berikutnya
dan seterusnya ia kian surut... Hanya kepada angin petang yang berhembus
diranting-ranting kayu dekat rumahku, hanya kepadanya aku bisikan menyuruh
supaya ditolongnya memeliharakan Abangku yang berjalan jauh...”
Begitupun
dengan Zainab kini ia telah mengetahui keberadaan Hamid, seseorang yang ia
nantikan selama bertahun-tahun. Karena Saleh pula cinta keduanya jadi terbuka,
Hamid dan Zainab kini sama-sama telah mengetahui perasaan masing-masing, yang
ternyata cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Tetapi sebelum keduanya
bertemu di tanah air, Tuhan telah berkehendak lain. Zainab dipanggil-Nya,
disusul pula oleh Hamid yang juga di paggil-Nya.”
Tokoh dan perwatakan,
ada beberapa jenis tokoh yang mungkin terdapat dalam sebuah cerkaan yaitu tokoh
sentral dan tokoh bawahan. Tokoh Sentral adalah tokoh yang hampir dalam
keseluruhan cerita menjelajahi persoalan. Tokoh sentral ini terbagi pada tokoh
utama atau protagonis dan tokoh penentang tokoh utama atau antagonis. Tokoh
bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya
sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Tokoh dalam novel
Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah
Aku. Aku disini memiliki watak
mudah dipercaya dan mudah tersentuh hatinya. Terlihat dalam kutipan
“...saya telah
percaya penuh pada Tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama
ini...”
“Sebenarnya
saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihannya itu telah berpindah ke dada
saya, meskipun saya tak tahu apa yang disedihkannya.”
Hamid sebagai tokoh utama.
Hamid, seorang sahabat yang baik hati, tidak suka membuang-buang waktu, dan
seorang muslim yang taat beribadah. Hamid di sini mempunyai watak tokoh berubah
karakter. Terlihat pada kutipan.
“...Hidupnya
amat sederhana, tiada lalai dari ibadat, tiada suka membuang waktu kepada yang
tidak berpaedah, lagi amat suka memperhatikan buku-buku agama, terutama
kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasawuf
yang tinggi.”
“...kadang-kadang
kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh rumah tempatnya tinggal,
melihat tenang-tenang kepada “gela'ah” (benteng-benteng) tua di atas puncak
Jabal Hindi.”
“...Cuma
ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya mulut saya tertutup, saya
menjadi seorang bodoh dan pengecut.”
Zainab sebagai tokoh utama. Seorang
gadis cantik yang santun dan patuh kepada orang tua. Zainab mempunyai watak
tokoh yang berubah karakter setelah terjadi peristiwa Hamid pergi tanpa memberi
tahu dirinya. Terlihat dalam kutipan
“...meskipun
saya hanya anak yang beroleh tolongan dari ayahnya, sesekali tidaklah Zainab
memandang saya sebagai orang lain lagi, tidak pula pernah mengangkat diri,
agaknya karena kebaikan didikan ayah bundanya.”
“Semenjak itu,
entah di lautan entah di daratan, berita tak sampai-sampai lagi, kian lama dia
hilang, kian berdiri dia dalam ingatanku. Kadang-kadang saya menjadi putus pengharapan,
hatiku kerap berkata, bahwa saya takkan bertemu lagi dengan dia.”
Ibu sebagai tokoh bawahan. Ibu
di sini digambarkan sebagai tokoh yang berubah karakter. Terkadang ia menjadi
orang yang pemarah, penuh kasih sayang, dan terkadang ia digambarkan sebagai
orang yang putus asa. Terlihat dalam
kutipan
“...kemiskinan
telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini,
karena tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah
terban...”
“...Mula-mula
ibu seakan-akan hendak menampik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya
telah bercepat mulut menerangkan untung perasaian kami kepada orang lain.”
“Di waktu
teman-teman bersukaria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya
hanya duduk dalam rumah didekat ibu, mengerjakan apa yang dapat saya tolong.
Kadang-kadang ada juga disuruhnya saya bermain-main, tetapi hati saya tiada
dapat gembira sebagai teman-teman itu, karena kegembiraan bukanlah saduran dari
luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu.”
Haji Ja'far sebagai tokoh
bawahan. Ayah Zainab yang baik hati yang mau membiayai Hamid sekolah dan
mengangkat Hamid sebagai anak laki-lakinya, serta orang yang dipandang di dalam
masyarakat karena budi baiknya. Terlihat dalam kutipan
“...besok
Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan
dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya.”
“...ia seorang
yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya
dalam pergaulan; tidak ada satupun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri
oleh Engku Haji Ja'far.”
Mak Asiah sebagai tokoh bawahan.
Ibu Zainab yang dermawan yang memiliki rasa belas kasihan yang tinggi dan patuh
kepada suaminya. Terlihat dalam kutipan
“...sekali-kali
tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan istri orang
hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai
saudaranya, segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan
muka yang rawan...”
“...segala
perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka rawan,
kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal-hal yang
sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah diantara keduanya
persahabatan yang kental, harga-menghargai dan cinta mencintai.”
Saleh sebagai tokoh bawahan. Saleh
mempunyai watak berubah karakter. Saleh disini digambarkan memiliki watak susah
memegang rahasia, tetapi di lain sisi ia seorang yang setia kawan. Terlihat
dalam kutipan
“...Demi
kelihatan hal itu jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya,
kalau-kalu di tempat itulah ia akan bercerai buat selama-lamanya dengan
kami...”
“Barangkali
terganggu perjalanan jiwa menuju bakti dan kesucian karena mendengar berita yang
saya bawa itu.” kata Saleh, “Tetapi saya sebangsa orang tiada tahan memegang
rahasia, sehingga terkatan juga olehku kepada engkau dan beruntung engkau
Hamid... berbahagia sekali.”
Rosna sebagai tokoh bawahan. Rosna
memiliki watak yang teguh hati dan setia kawan. Terlihat dalam kutipan
“...Dia
menceritakan kepadaku, bahwa dia telah beristri dan istrinya telah sudi
melepaskan dia berlayar sejauh itu, padahal mereka baru kawin. Dipujinya
istrinya sebagai seorang perempuan yang setia yang teguh hati melepas suaminya
berjalan jauh, karena untuk menambah pengetahuannya...”
“...seketika
lamanya kedua sahabat itu berpeluk-pelukan, bertangis-tangisan, tidak
berkata-kata.”
Latar atau setting adalah segala keterangan
mengenai waktu, ruang, suasana, dan lingkungan sosial yang terdapat dalam
cerita (Sugiantomas, Gaya bahasa adalah cara pengarang dalam mengungkapkan
suatu pengertian dalam kata, kelompok kata atau kalimat (Sugiantomas, 1998:5).
Latar atau setting dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah:
Latar Tempat
Di Mekah. “...Dua
hari kemudian saya pun sampai di mekkah, Tanah Suci kaum muslim sedunia.”
Di Kota
Padang. “...Ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami
itu...”
Di Puncak
Gunung Padang. “Waktu orang berlimau, sehari orang akan berpuasa, kami dibawa
ke atas puncak Gunung Padang...”
Di Padang
Panjang. “Saya tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang
Panjang…”
Di Pesisir Arau.
“...di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di Pesisir Arau yang indah
itu...”
Latar Suasana
Suasana
sedih. “...air matanya titik amat derasnya membasahi sorban yang membalut
dadanya...”. “Yang berasa sedih amat, adalah anak-anak perempuan yang akan masuk
pingitan; tamat sekolah bagi mereka
artinya suatu sangkar yang telah tersedia buat seekor burung yang bebas
terbang...”. “...air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir, setitik dua
titik kepipinya...”
Suasana
bahagia. “Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang
sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok
Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan
dengan belanja Engku Haji Ja'far sendiri bersama-sama anaknya. Mendengar
perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang
selama ini sangat diharap-harapkannya.”. “Bilamana pakansi puasa telah datang,
gembiralah hati saya, karena akan dapat saya menghadap ibu saya, memaparkan
dihadapannya, bahwa dia sudah patut gembira, karena anaknya ada harapan akan
menjadi orang alim...”. “Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah,
nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya.”. “Akan dapatkah dilukiskan,
dapatkah diperikan bagaiman wajah Hamid ketika membaca surat
itu.Dapatkah,mungkinkah dikira-kirakan bagaiman perasaannya waktu itu? Surat
demikian adalah pengharapannya selama ini,buah mimpinya.Memikirkan kerendahan
derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima
surat Zainab.”
Sudut pandang
adalah kedudukan pengarang dalam bercerita. Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini menggunakan sudut pandang orang
pertama dan kedua. Orang pertama yaitu Aku, sedangkan orang kedua yaitu Hamid,
Saleh, Zainab, Engku Haji Ja’far, Mak Asiah, dan Rosna.
Gaya bahasa
adalah cara pengarang dalam mengungkapkan suatu pengertian dalam kata, kelompok
kata atau kalimat (Sugiantomas, 1998:53). Gaya bahasa yang terdapat dalam novel
Di Bawah Lindungan Ka’bah ini adalah
Gaya bahasa asosiasi. “...Merapi
dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas...” (HAMKA, Halaman 23). “...setelah
melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi.” (HAMKA,
Halaman 43). “Bertahun tahun kami hidup laksana beradik berkakak...” (HAMKA,
Halaman 53). “...laksana seorang pendeta pertapa yang benci akan dunia leta
ini.” (HAMKA, Halaman 53). “...laksana seekor burung yang terlepas dari
sangkarnya sepeninggalan yang empunya pergi.”(HAMKA, Halaman 62). “...laksana
lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badanya dengan sukmanya.” (HAMKA,
Halaman 72). “Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu
padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke
pulau, tiada manusia menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan
dahaga.” (HAMKA, Halaman 58).
Gaya bahasa hiperbola. “...terlompatlah
air mata ibuku karena suka cita...” (HAMKA, Halaman 18). “...air matanya
kelihatan menggelenggang...” (HAMKA, Halaman 41). “...saya patahkan hati
anaknya yang hanya satu...” (HAMKA, Halaman 44). “...saya telah karam di dalam
khayal...” (HAMKA, Halaman 54). “...karam rasanya bumi ini saya pijakan...” (HAMKA,
Halaman 41).
Gaya bahasa personifikasi. “...tiba-tiba
datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu.” (HAMKA,
Halaman 20). “...dicelah-celah ombak yang memecah ke atas pasir...” (HAMKA,
Halaman 35). “...memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang...”
Gaya bahasa metafora. “...singgalang
yang senantiasa diliputi kabut... “ (HAMKA, Halaman 24).
Tema adalah pokok persoalan yang diceritakan pengarang. Tema dalam
novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini
adalah tentang percintaan, tetapi
terhalang oleh status sosial kehidupan. Amanat dalam cerkaan dapat dilihat dari
keseluruhan cerita, artinya ada dalam cara-cara pengarang melontarkan konflik
bagi tokoh-tokohnya, mengembangkannya, dan menyelesaikannya. Amanat dapat pula
dilihat dari kalimat-kalimat yang langsung diungkapkan oleh pengarang baik
berupa narasi, deskripsi, atau dialog tokoh. Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah pesan yang ingin disampaikan penulis
yaitu segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. Sebagai manusia kita hanya bisa
merencanakan, berharap, dan terus berusaha.
Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan yang dimiliki karya sastra ini,
dapat dilihat dari keunikan bahasanya yang penuh warna dan alurnya yang membawa pembaca merasakan apa yang dirasakan
oleh Hamid dan Zainab. Isi dari karya sastra ini juga sangat menarik,
menceritakan tentang keromantisan dan kesabaran yang luar biasa yang tanpa
disadari akan menguras air mata pada saat kita membacanya. Kesabaran yang
begitu besar, patuh pada orang tua, dan kebiasaan bertawakal kepada Allah SWT
adalah hikmah yang dapat kita ambil dari novel tersebut. Kelemahan yang
terdapat dalam novel ini yaitu dalam penulisannya. Bahasa yang digunakan
penulis dalam menulis novel tersebut masih berbelit-belit, masih
mencampuradukkan antara bahasa Minang-Indonesia dengan bahasa Melayu sehingga
tidak semua pembaca akan mengerti akan maksud yang ingin disampaikan oleh
pengarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar