BAB
I
PENDAHULUAN
Identitas Buku
1.
Judul Buku : Prosedur Analisis Fiksi
2.
Tahun Terbit : 1992
3.
Pengarang : Drs. Muhardi, M.S. dan Drs. Hasanuddin WS
4.
Tebal :
118 Halaman
5.
Penerbit :
IKIP Padang Press
6.
Cetakan Ke Berapa : Cetakan 1
7. Kesimpulan : Fiksi merupakan genre sastra
yang mengandalkan imajinasi dalam penciptaannya. Dalam karya fiksi ada
unsure-unsur yang membangun karya tersebut, yaitu ada unsure intrinsic dan
ekstrinsik. Karya fiksi merupakan karya yang otonom yaitu hanya percaya pada
dirinya sendiri atau dia dapat berdiri sendiri dan bebas. Dalam karya fiksi
menggunakan pendekatan objektif. Dalam pendekatan objektif terdapat
tahapan-tahapan prosedur fiksi meliputi serangkaian kegiatan, seperti
pembacaan, penginventarisasian, pengidentifikasian, penginterpretasian,
pembuktian, penyimpulan, dan pelaporan.
BAB
II
ISI
LAPORAN BUKU
1.
HAKEKAT FIKSI
Kata fiksi berasal dari fiction yang berarti rekaan,
khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, atau dapat juga berarti suatu pernyataan
yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran semata.
Fiksi merupakan salah satu genre sastra yang
diciptakan dengan mengandalakan pemaparan tentang seseorang atau suatu
peristiwa. Sebagai karya fiksi, pemaparan tentang seseorang atau peristiwa
seakan-akan benar-benar terjadi atau seolah-olah pernah ada dalam kehidupan
nyata. Padahal periwtiwa atau pun seseorang yang terdapat dalam kerya fikisi
tersebut tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata itu
hanyalah sebuah pemikiran atau imajinasi pengarang saja. Untuk itu sebagai pembaca karya fiksi kita
harus tahu bahwa cerita yang terdapat dalam karya tersebut ahanyalah rekaan dan
tidak pernah terjadi.
Sumber penciptatan karya fiksi adalah berasal dari
alam sekitar terutama dilingkungan pengarang, maka tidak berbeda dengan karya
non fiksi karena karya non fiksi juga mengambil dari alam sekitar. Namun
perbedaan muncul diantara keduannya yaitu pada proses penciptaannya.
Antara fiksi dan non fiksi prinsip penulisannya pun
berbeda. Pada karya non fiksi prinsip penulisannya dilandasi dengan keyakinan
pegarang bahwa semua itu adalah fakta dan apa adanya sesuai dengan kenyataan,
sedangkan pada karya fiksi prinsip penulsnnya dilandasi oleh keyakian pengarang
bahwa seandainya semuai ini adalah fakta dan merupakan peristiwa yang akan
terjadi nantinya, jadi itu semua adalah imajinasi pengarang saja.
Karya sastra fiksi memiliki fungsi untuk mnyuburkan
nilai-nilai praktis dan memperkaya nilai-nilai normative dan nilai-nilai
estetis serta nilai-nilai praktis yang berhubungan dengan bagaimana caranya
mewujudkan prilaku berdasarkan nilai normative dan estetis. Nilai normative dan
esetis akan terdapat dalam karya fiksi apabila adanya penalaran dan pengolahan
kematangan intelektual dan visi pikiran yang dilakukan oleh pengarang.
Karya sastra fiksi memiliki otonomi fiksi yaitu dia
bebas dan dapat berdiri sendiri. Dimana otonomi fiksi ini cendrung
memperlakukan karya sastra fiksi sebagai karya yang terlepas dari penciptaannya
dan sumbernya.
2. Unsur-Unsur
Fiksi
Karya fiksi memiliki dua unsure yang membangun karya
fiksi itu sendiri. Ada unsure yang membangun dari dalam fiksi itu sendiri dan
ada juga unsure yang membangun dari luar fiksi tersebut.
Unsure yang membangun dari dalam karya fiksi
tersebut dinamakn dengan unsure intrinsic sedangkan unsure yang membangun dari
luar karya fiksi tersebut dinamakn dengan unsure ekstrinsik.
Didalam unsure intrinsic ada unsure utama dan unsure
penunjang. Unsure utamanya adalah semua yang berhubungan dengan pemberian makna
yang tertuang didalam bahasa, seperti penokohan, alur, dan latar yang akan
menghasilkan suatu masalah yang disebut dengan tema dan amanat. Sedangkan
unsure penunjangnya adalah segala upaya yang duguakan dalam memanfatkan bahasa,
seperti gaya bahasa dan sudut pandang.
Unsure ekstrinsik juga mempunyai unsure utama dan unsure
penunjang. Unsure utamanya yaitu pengarang, sedangkan unsure penunjangnya yaitu
segala hal yang akan masuk melalui pengarang, seperti norma-norma, ideology,
tatanilai, konvensi budaya, dan konvensi bahasa yang biasa terdapat dalam
realitas objektif.
3. Pendekatan
Objektif Dalam Analisis Fiksi
Pendekatan analisi fiksi yaitu suatu usaha yang
dilakukan seseorang dengan menggunakan logika rasional dan metode tertentu
secara konsisiten terhadap unsure-unsur fiksi sehingga menemukan perumusan umum
tentang keadan fiksi yang diselidiki. Analisis fiksi juga dilakukan dengan
kemauan untuk seobjektif mungkin, dan tidak dilandasi dengan pandangan
subjektif penganalisis.
Analisi fiksi bertujuan untuk
menemukan keadaan unsure-unsur dan karakteristik hubungan antar unsure sehingga
ditemukan suatu kesimpulan sebagai hasil penilaian terhadap fiksi tersebut.
Analisis fiksi juga bertjuan ntuk memahami keunggulan sebuah karya fiksi,
cirri-ciri husus sebuah fiksi yang membedakannya dengan karya fiksi lainnya.
Pada saat membaca karya fiksi
pembaca cendrung hanyut dengan materi bacaan tersebut. Pembaca juga cendrung
ikut trance dan hanyut dengan perkembangan permasalahan dan pergerakan tokoh
fiksi.
Ada empat karakterisitik pendekatan
analisis sastra yang disimpulkan oleh M.H. Abrams, yaitu: pendekatan objektif,
pendekatan mimesis, pendekatan ekspresif, dan pendekatan pragmatis.
4. Pentahapan
Kerja Pendekatan Objektif
Tahapan prosedur fiksi meliputi serangkaian
kegiatan, seperti pembacaan, penginventarisasian, pengidentifikasian,
penginterpretasian, pembuktian, penyimpulan, dan pelaporan.
Dalam tahapan prosedur fiksi ini pembaca berhubungan
dengan proses pengenalan unsure fiksi secara keseluruhan. Penginventarisasian
berhubungan dengan proses pembingkaran unsure-unsur fiksi, pengidentifikasian
berhubungan dengan proses pencarian hubungan, penginterpretasianmerupakan
proses pemberian makana dan pengertian terhadap kaitan unsure berdasarkan
logika, pembuktian merupakan proses pengujian makna dan pengertian sebagai
hasil kesimpulan sementara, penyimpulan merupakan proses pengumpula ulang dari
makna dan pengertian yang telah dikukuhkan atau dikuatkan, dan terakhir adalah
pelaporan yaitu proses penulisan semua hasil kesimpulan berdasarkan kaedah
penulisan karya ilmiah.
Unsure utama fiksi yang mesti diinventarisasi adalah
alur, penokohan, dan latar. Inventarisasi sebagi tahap awal harus melakukan
penginventarisasian tersebut disertai denga invntarisasai bagia sudut pandang
yang amat berguna nantinya dalam proses penginterpretasian. Dimana proses
tersebut dapat berlangsung secara bersamaan atau terpisah-pisah.
5. Sikap
Dan Perilaku Masyarakat Terhadap Orang Gila
Banyak masyarakat yang bersikap semena-mena terhadap
orang gila. Padahal seharusnya kita tidak boleh bersikap kejam apa lagi
semena-mena dengan mereka yang memiliki gangguan pada kejiwaannya. Seharusnya
kita menyayangi bahkan membantu mereka agar mereka dapat sembuh dan terhindar
dari hal-hal yang tidakk baik.
Sebagai masyarkat yang memilki
keadaan yang normal kita seharusnya mengetahui mengapa orang tersebut
gangguanya bisa terganggu bukannya malah menghinannya. Karena menghina bahkan
melakukan hal-hal yangs semena-mena dapat menimbulkan efek samping bagi orang
tersebut bahkan bagi diri kita sendiri.
Efek samping yang bisa terjadi yaitu
membuat orang tersebut melakukan hal yang tidak baik seperti merusak bahkan
bisa berbahaya bagi orang lain. Dan efek samping bagi kita adalah kita malah
membuat orang tersebut semakin mengalmi gangguan pada kejiwaannya, dan kita pun
malah mengajari ang tidak baik bagi orang lain terutama anak kecil. Jadi sebaai
orang yang normal tidak boleh melakukan hal seperti itu.
BAB
III
PENUTUP
Manfaat Buku Prosedur Analisi Fiksi
Manfaatnya bagi kita adalah kita dapat mengetahui
apa yang dimaksud dengan karya sastra fiksi dan apa saja unsure-unsur yang
membangun karya tersebut. Kita juga bias mengetahui apa pendekatan yang
disunakan dalam kerya sastra fiksi dan bagaimana tahapan-tahapan kerja pada
pendekatan objektif dalam karya sastra fiksi. Kita juga bias mengetahui
bagaimana seharusna kita memperlakukan orang yang memiliki gangguan pada
kejiwaan dan bagaimana sikap masyarakat terhadap orang gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar