Jumat, 22 Maret 2013

Resensi Buku Prosedur Analisis Fiksi


BAB I
PENDAHULUAN

Identitas Buku
1.      Judul Buku                  : Prosedur Analisis Fiksi
2.      Tahun Terbit                : 1992
3.      Pengarang                   : Drs. Muhardi, M.S. dan Drs. Hasanuddin WS
4.      Tebal                           : 118 Halaman
5.      Penerbit                       : IKIP Padang Press
6.      Cetakan Ke Berapa     : Cetakan 1
7.      Kesimpulan                 : Fiksi merupakan genre sastra yang mengandalkan imajinasi dalam penciptaannya. Dalam karya fiksi ada unsure-unsur yang membangun karya tersebut, yaitu ada unsure intrinsic dan ekstrinsik. Karya fiksi merupakan karya yang otonom yaitu hanya percaya pada dirinya sendiri atau dia dapat berdiri sendiri dan bebas. Dalam karya fiksi menggunakan pendekatan objektif. Dalam pendekatan objektif terdapat tahapan-tahapan prosedur fiksi meliputi serangkaian kegiatan, seperti pembacaan, penginventarisasian, pengidentifikasian, penginterpretasian, pembuktian, penyimpulan, dan pelaporan.








BAB II
ISI LAPORAN BUKU

1.      HAKEKAT FIKSI

Kata fiksi berasal dari fiction yang berarti rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, atau dapat juga berarti suatu pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran semata.

Fiksi merupakan salah satu genre sastra yang diciptakan dengan mengandalakan pemaparan tentang seseorang atau suatu peristiwa. Sebagai karya fiksi, pemaparan tentang seseorang atau peristiwa seakan-akan benar-benar terjadi atau seolah-olah pernah ada dalam kehidupan nyata. Padahal periwtiwa atau pun seseorang yang terdapat dalam kerya fikisi tersebut tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata itu hanyalah sebuah pemikiran atau imajinasi pengarang saja.  Untuk itu sebagai pembaca karya fiksi kita harus tahu bahwa cerita yang terdapat dalam karya tersebut ahanyalah rekaan dan tidak pernah terjadi.

Sumber penciptatan karya fiksi adalah berasal dari alam sekitar terutama dilingkungan pengarang, maka tidak berbeda dengan karya non fiksi karena karya non fiksi juga mengambil dari alam sekitar. Namun perbedaan muncul diantara keduannya yaitu pada proses penciptaannya.

Antara fiksi dan non fiksi prinsip penulisannya pun berbeda. Pada karya non fiksi prinsip penulisannya dilandasi dengan keyakinan pegarang bahwa semua itu adalah fakta dan apa adanya sesuai dengan kenyataan, sedangkan pada karya fiksi prinsip penulsnnya dilandasi oleh keyakian pengarang bahwa seandainya semuai ini adalah fakta dan merupakan peristiwa yang akan terjadi nantinya, jadi itu semua adalah imajinasi pengarang saja.

Karya sastra fiksi memiliki fungsi untuk mnyuburkan nilai-nilai praktis dan memperkaya nilai-nilai normative dan nilai-nilai estetis serta nilai-nilai praktis yang berhubungan dengan bagaimana caranya mewujudkan prilaku berdasarkan nilai normative dan estetis. Nilai normative dan esetis akan terdapat dalam karya fiksi apabila adanya penalaran dan pengolahan kematangan intelektual dan visi pikiran yang dilakukan oleh pengarang.

Karya sastra fiksi memiliki otonomi fiksi yaitu dia bebas dan dapat berdiri sendiri. Dimana otonomi fiksi ini cendrung memperlakukan karya sastra fiksi sebagai karya yang terlepas dari penciptaannya dan sumbernya.

2.      Unsur-Unsur Fiksi

Karya fiksi memiliki dua unsure yang membangun karya fiksi itu sendiri. Ada unsure yang membangun dari dalam fiksi itu sendiri dan ada juga unsure yang membangun dari luar fiksi tersebut.

Unsure yang membangun dari dalam karya fiksi tersebut dinamakn dengan unsure intrinsic sedangkan unsure yang membangun dari luar karya fiksi tersebut dinamakn dengan unsure ekstrinsik.

Didalam unsure intrinsic ada unsure utama dan unsure penunjang. Unsure utamanya adalah semua yang berhubungan dengan pemberian makna yang tertuang didalam bahasa, seperti penokohan, alur, dan latar yang akan menghasilkan suatu masalah yang disebut dengan tema dan amanat. Sedangkan unsure penunjangnya adalah segala upaya yang duguakan dalam memanfatkan bahasa, seperti gaya bahasa dan sudut pandang.

Unsure ekstrinsik juga mempunyai unsure utama dan unsure penunjang. Unsure utamanya yaitu pengarang, sedangkan unsure penunjangnya yaitu segala hal yang akan masuk melalui pengarang, seperti norma-norma, ideology, tatanilai, konvensi budaya, dan konvensi bahasa yang biasa terdapat dalam realitas objektif.

3.      Pendekatan Objektif Dalam Analisis Fiksi

Pendekatan analisi fiksi yaitu suatu usaha yang dilakukan seseorang dengan menggunakan logika rasional dan metode tertentu secara konsisiten terhadap unsure-unsur fiksi sehingga menemukan perumusan umum tentang keadan fiksi yang diselidiki. Analisis fiksi juga dilakukan dengan kemauan untuk seobjektif mungkin, dan tidak dilandasi dengan pandangan subjektif penganalisis.

            Analisi fiksi bertujuan untuk menemukan keadaan unsure-unsur dan karakteristik hubungan antar unsure sehingga ditemukan suatu kesimpulan sebagai hasil penilaian terhadap fiksi tersebut. Analisis fiksi juga bertjuan ntuk memahami keunggulan sebuah karya fiksi, cirri-ciri husus sebuah fiksi yang membedakannya dengan karya fiksi lainnya.

            Pada saat membaca karya fiksi pembaca cendrung hanyut dengan materi bacaan tersebut. Pembaca juga cendrung ikut trance dan hanyut dengan perkembangan permasalahan dan pergerakan tokoh fiksi.

            Ada empat karakterisitik pendekatan analisis sastra yang disimpulkan oleh M.H. Abrams, yaitu: pendekatan objektif, pendekatan mimesis, pendekatan ekspresif, dan pendekatan pragmatis.

4.      Pentahapan Kerja Pendekatan Objektif
Tahapan prosedur fiksi meliputi serangkaian kegiatan, seperti pembacaan, penginventarisasian, pengidentifikasian, penginterpretasian, pembuktian, penyimpulan, dan pelaporan.
Dalam tahapan prosedur fiksi ini pembaca berhubungan dengan proses pengenalan unsure fiksi secara keseluruhan. Penginventarisasian berhubungan dengan proses pembingkaran unsure-unsur fiksi, pengidentifikasian berhubungan dengan proses pencarian hubungan, penginterpretasianmerupakan proses pemberian makana dan pengertian terhadap kaitan unsure berdasarkan logika, pembuktian merupakan proses pengujian makna dan pengertian sebagai hasil kesimpulan sementara, penyimpulan merupakan proses pengumpula ulang dari makna dan pengertian yang telah dikukuhkan atau dikuatkan, dan terakhir adalah pelaporan yaitu proses penulisan semua hasil kesimpulan berdasarkan kaedah penulisan karya ilmiah.
Unsure utama fiksi yang mesti diinventarisasi adalah alur, penokohan, dan latar. Inventarisasi sebagi tahap awal harus melakukan penginventarisasian tersebut disertai denga invntarisasai bagia sudut pandang yang amat berguna nantinya dalam proses penginterpretasian. Dimana proses tersebut dapat berlangsung secara bersamaan atau terpisah-pisah.
5.      Sikap Dan Perilaku Masyarakat Terhadap Orang Gila
Banyak masyarakat yang bersikap semena-mena terhadap orang gila. Padahal seharusnya kita tidak boleh bersikap kejam apa lagi semena-mena dengan mereka yang memiliki gangguan pada kejiwaannya. Seharusnya kita menyayangi bahkan membantu mereka agar mereka dapat sembuh dan terhindar dari hal-hal yang tidakk baik.
            Sebagai masyarkat yang memilki keadaan yang normal kita seharusnya mengetahui mengapa orang tersebut gangguanya bisa terganggu bukannya malah menghinannya. Karena menghina bahkan melakukan hal-hal yangs semena-mena dapat menimbulkan efek samping bagi orang tersebut bahkan bagi diri kita sendiri.
            Efek samping yang bisa terjadi yaitu membuat orang tersebut melakukan hal yang tidak baik seperti merusak bahkan bisa berbahaya bagi orang lain. Dan efek samping bagi kita adalah kita malah membuat orang tersebut semakin mengalmi gangguan pada kejiwaannya, dan kita pun malah mengajari ang tidak baik bagi orang lain terutama anak kecil. Jadi sebaai orang yang normal tidak boleh melakukan hal seperti itu.


BAB III
PENUTUP

            Manfaat Buku Prosedur Analisi Fiksi
Manfaatnya bagi kita adalah kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra fiksi dan apa saja unsure-unsur yang membangun karya tersebut. Kita juga bias mengetahui apa pendekatan yang disunakan dalam kerya sastra fiksi dan bagaimana tahapan-tahapan kerja pada pendekatan objektif dalam karya sastra fiksi. Kita juga bias mengetahui bagaimana seharusna kita memperlakukan orang yang memiliki gangguan pada kejiwaan dan bagaimana sikap masyarakat terhadap orang gila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar